Sesuatu itu adalah Biodiesel (Part 2)

Campuran biosolar (B30) juga memiliki kekurangan. Salah satunya dapat memperpendek usia filter solar dan membeku saat terpapar udara dingin. Masalah pada filter dapat diberikan solusi dengan menggantinya filter lebih cepat. Karena masih bersifat lemak jenuh, otomatis temperatur rendah potensi membeku lebih tinggi. Hal ini membuat mobil-mobil bermesin diesel bakal susah distarter, terutama saat pagi atau malam hari di daerah yang bersuhu rendah. Beberapa laporan didapatkan dari kawasan Freeport di Papua, atau sejumlah dataran tinggi di Jawa dan Sumatera.

Alasan MTI Jatim Minta Harga Solar Diturunkan - Surabaya Liputan6.com

Sejumlah masalah disebut akan timbul jika mengisi mesin diesel dengan Biosolar B30, terutama bagi mesin diesel modern. Adapun potensi masalah yang timbul ketika menggunakan Biosolar B30 tidak akan langsung terasa jika baru sekali atau dua kali pakai secara berturut-turut, akan terasa tarikan bawah lebih lembat. Selain dari performa mesin yang tidak bisa maksimal, penggunaan Biosolar disebut menimbulkan suara yang lebih kasar dari biasanya. Buat orang awam, mungkin tidak terlalu terasa. Tapi buat orang yang mengerti, misal lagi di bengkel, dia bisa tahu pemakaian Biosolar atau Pertadex. Indikator engine check menyala pada layar informasi juga jadi risiko penggunaan Biosolar B30. Hal ini terjadi karena sensor membaca telah terjadi penumpukan kotoran pada filter solar sehingga engine check nyala pasti bikin panik, padahal itu karena filter solar mulai kotor. Kalau filter sudah diganti, langsung indikator tidak menyala lagi. Konsekuensinya penggunaan Biosolar B30 dapat memperpendek usia filter solar. Hal ini membuat masa penggantiaannya jadi lebih cepat, daripada saat menggunakan solar berjenis Pertamina Dex atau Dexlite. Biasanya jika memakai Pertamina Dex, filter solar bisa tahan lama, bisa di atas 10.000 KM umurnya namun saat pakai Biosolar penggantian filter bisa tiap 5.000 KM. Harga filter solar masih terjangkau Rp 300.000 di bengkel resmi. Karena jika terlalu lama ganti filter akan kena injektornya, biaya servisnya cukup mahal, bisa mencapai Rp 10 juta.

Pengguna biodiesel B30 perlu memiliki mobilitas penggunaan kendaraan yang tinggi sehingga kandungan air di dalam tangki selalu dalam batas aman. Jika merasa kuatir dengan kandungan air di dalam tangki, bisa dibuat jadwal pemeriksaan terhadap filter solar setiap 5.000 KM untuk mencegah saluran bahan bakar tidak tersumbat atau malah lolos dari filter sehingga menyumbat injector di mesin. Kualitas sil-sil di mesin juga perlu ditingkatkan agar material karetnya lebih tahan terhadap kandungan minyak nabati yang kian banyak di bahan bakar diesel. Adapun solusi lain yang mudah adalah menambahkan cairan aditif dengan fungsi:

  • mencegah kenaikan kandungan air
  • mampu mengkonversi kandungan air menjadi emulsi yang dapat turut terbakar
  • flow improver: mencegah plugging pada filter, menurunkan nilai cloud point, meningkatkan homogenisasi campuran biodiesel
  • pembunuh bakteri/mikroba: mencegah enzym hidrolisis bekerja
  • Menahan korosi dan karat
  • Menaikkan cetane number: meningkatkan kualitas pembakaran solar serta mempercepat pemantikan diesel, menambah torsi dan menghemat konsumsi BBM
  • Antioksidan: mencegah pembentukan koloid bahan bakar, lumpur minyak, sedimen dan oksida lainnya.
  • Mencegah endapan lumpur oli: menjaga kebersihan tabung oli, filter, dan sistem bahan bakar.
  • Menghilangkan zat emulsi: menjaga kemurnian property biodiesel

Sesuatu itu adalah Biodiesel (Part 1)

Biodiesel

Setelah biodiesel B20, mandatori penggunaan B30 sudah dilaksanakan sejak awal 2020. Apa keuntungan dari penggunaan biodiesel B30 ini? Jika dibandingkan dengan petroleum solar (B0), B100 alias minyak nabati (Fatty Acid Metyl Ester / FAME) memiliki Cetane number hingga 51. Artinya, dengan digabungkan B0 dan B100 sehingga menghasilkan B30, maka bahan bakar ini lebih mudah terbakar jika dibandingkan Solar yang hanya memiliki Cetane 48. Plus pengurangan jumlah kandungan Sulfur, secara total, mengingat minyak nabati tidak memiliki kandungan logam di dalamnya, termasuk Sulfur yang menjadi momok injector di mesin.

Adanya implementasi penggunaan biodiesel jenis B20 telah menurunkan impor solar pada 2019 sehingga rata-rata impor solar bulanan tahun 2019 turun 45 persen dibanding rata-rata impor solar bulanan tahun 2018. Fakta lainnya tentang manfaat B20 berhasil menghemat devisa sebesar US$1,66 miliar atau setara dengan Rp23,6 triliun karena turunnya impor solar.
Sebuah studi di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa emisi karbon dioksida yang dikeluarkan biodiesel sekitar 75 persen, lebih rendah dibandingkan yang dihasilkan oleh bahan bakar fosil. Bahan bakar ini tidak mengandung bahan kimia beracun seperti sulfur yang bertanggung jawab pada pencemaran lingkungan. Tidak adanya sulfur berarti mengurangi risiko terjadinya hujan asam. Hal ini seiring dengan penurunan emisi GRK dari mandatory biodiesel 2018 mencapai 6,0 juta ton CO2e, dan tahun 2019 diperkirakan mencapai 9 juta ton CO2e.

Melihat pengalaman pemerintah pada Juni 2019, dalam melakukan uji coba jalan tiga unit truk dan delapan kendaraan penumpang diesel dengan jarak tempuh 40 ribu dan 50 ribu kilometer.Kendaraan itu diuji coba untuk membuktikan penggunaan B30 tidak mempengaruhi kinerja mesin diesel. Dimana lingkup kegiatan Road Test B30 terdiri dari pengujian kualitas bahan bakar, kualitas pelumas, merit rating komponen mesin, stabilitas penyimpanan pada kondisi luar ruangan bersuhu dingin, penyiapan dan blending bahan bakar, kajian manajemen kebutuhan bahan bakar, uji konsumsi bahan bakar, uji unjuk kerja kendaraan, uji tingkat penyumbatan pada filter bahan bakar, hingga uji presiptasi pada kendaraan (starter mobil dalam kondisi dingin). Uji coba B30 bisa disebut berhasil, karena ditemukan hanya satu hal kurang bagus dimana filter tangki tidak bisa bekerja sesuai dengan yang disarankan, misalnya filter bahan bakar dibuat untuk 10.000 kilometer tapi pada saat uji jalan B30 ditemukan bermasalah di 6.000 kilometer. Saat ini pemerintah sudah melakukan sejumlah evaluasi terkait uji coba tersebut yang nantinya akan menjadi landasan bagi pemerintah dalam mengambil keputusan terkait penggunaan B30 hingga ke B50, baik itu untuk kepentingan transportasi, industri mau pun pertambangan.


Sumber:
https://otomotif.kompas.com/read/2020/01/16/080200815/potensi-masalah-yang-timbul-jika-mesin-diesel-pakai-biosolar-b30
https://www.gridoto.com/read/222197369/sering-isi-biodiesel-b30-di-mobil-diesel-common-rail-apakah-aman
https://coaction.id/membedah-kebijakan-dan-plus-minus-penggunaan-biodiesel-di-indonesia/
https://autochem.id/Detail/Berita/384/Pahami-Karakter-Biodiesel-B30-Agar-Mesin-Tidak-Cepat-Rusak
https://medan.tribunnews.com/2020/01/14/kekurangan-dan-kelebihan-biodiesel-b30-yang-sudah-tersedia-hampir-di-seluruh-spbu
https://katadata.co.id/arnold/energi/5e9a55e353378/lima-masalah-penerapan-biodiesel

Aditif Blending A20 (Gasoline-Methanol-Ethanol)

Selain B30 (biodiesel 30%), Pertamina juga berinisiatif mengembangkan A20 atau bahan bakar dengan emisi rendah campuran 15% metanol dan 5% ethanol. Rencana tersebut sedang diriset oleh Pertamina bersama dengan Kementerian ESDM. Keberadaan A20 dinilai dapat menciptakan bensin atau gasoline dengan harga murah dan pembakaran yang efisien. Inisiatif Pertamina dalam pengembangan riset A20 patut diapresiasi karena akan memberikan dampak besar yang positif di dunia perminyakan, industi petrokimia dan otomotif. Kehadiran campuran methanol di gasoline Pertamina tentu akan memberikan peningkatan kualitas pembakaran BBM di mesin bensin.

Adapun program A20 ini akan menghasilkan gasoline (bensin/pertamax) yang kemungkinan besar mengutip di Perjanjian Paris dalam konferensi perubahan iklim beberapa tahun lalu, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi hingga 29% di tahun 2030. Sebagai langkah konkret, diterbitkan Permen Kementerian Lingkungan Hidup Nomor 20 tahun 2017 yang menyarankan standar minimal RON 91 untuk produk gasoline sesuai dengan standar EURO 4.

Program A20 ini akan berdampak terhadap hal-hal teknis tetang sifat Methanol yang berhubungan erat terhadap kualitas blending GME yaitu:

  • Metal Corrosion (menyebabkan karat pada permukaan logam)
  • Vapor Lock Index (tingkat penguapan yang lebih tinggi daripada gasoline)
  • Rubber Swelling (menyebabkan karet jadi lentur/melar)

Mengacu persoalan teknis tersebut maka PT Prosympac Oil & Gas (POG) berinisiatif untuk menemukan solusi yang bisa memberikan perbaikan pada permasalahan tersebut. Dimana sejak 19 Februari 2020 POG bekerjasama dengan Pertamina RTC untuk menguji aditif PGA-01, PGA-02, PGA-03 untuk diikut sertakan di uji laboratorium dalam proses formulasi blending A20.

Hingga saat ini proses pengujian masih berlangsung, adapun berdasarkan informasi rapat video conference antara Pertamina RTC dan tim POG, aditif PGA series ini memberikan hasil yang sesuai dengan harapan dimana korosi bisa dicegah, penguapan bisa dikurangi/dicegah dan hasil campuran aditif di A20 tidak membuat karet jadi lentur/melar.

Aspek Teknis Blending Gasoline-Methanol-Ethanol

https: img.okeinfo.net content 2019 02 10 320 2015919 premium-dan-pertamax-turun-ini-daftar-lengkap-harga-bbm-GNtuQq5BTm.jpg
Sumber Foto: Koran SINDO

Meskipun telah digunakan di beberapa negara, masih banyak aspek teknis yang perlu dibuktikan dengan penggunaan methanol sebaga campuran bahan bakar. Concern terhadap aspek kesehatan, korosif, dan vapour lock menyebabkan methanol dipandang sebelah mata. Beberapa pertimbangan teknis untuk penggunaan methanol adalah sebagai berikut :

  • Methanol memiliki nilai oktan yang tinggi, sehingga dapat berperan sebagai octane booster. Penggunaan methanol dapat menggantikan peran MTBE yang berpotensi carsinogenic pada dosis tinggi, dan dengan harga yang lebih ekonomis.
  • Sifat methanol yang mudah menguap dapat memberikan keuntungan untuk efisiensi pembakaran dengan meningkatkan engine knock limit. Namun tingginya kandungan uap di dalam mesin dapat berpotensi meningkatkan reid vapor pressure dan membuat knocking pada mesin.
  • Nilai kalori yang lebih rendah (hampir setengahnya gasoline) membuat adanya potensi peningkatan konsumsi bahan bakar. Meskipun dari hasil pengujian yang telah dilakukan, peningkatan konsumsi bahan bakar lebih tinggi pada campuran ethanol, namun hal ini juga bergantung pada jenis mesin dan kesesuaian mesin pada nilai octane yang tinggi.
  • Kandungan oksigen pada methanol menyebabkan adanya sifat korosif pada material logam, terutama pada konsentrasi yang tinggi. Namun hal ini dapat diatasi dengan ditambahkan additive corrosion inhibitor pada bahan bakar.
  • Selain korosif, methanol juga tidak compatible untuk beberapa material karet dan polymer. Untuk itu, perlu dilakukan pengecekan material di seluruh pola suplai bahan bakar methanol sebelum diimplementasi.
  • Seperti bahan bakar alcohol lainnya, methanol juga memiliki sifat higroskopis. Hal ini berarti methanol memiliki nilai kelarutan pada air yang tinggi, dan dapat menyerap air termasuk dari kelembaban di udara. Untuk mengatasi tingginya kandungan air di dalam bahan bakar, perlu dipastikan bahwa seluruh jalur suplai methanol kering dan tidak terkontaminasi air. Selain itu, adanya penambahan co-solvent juga dapat meningkatkan toleransi kelarutan air di dalam bahan bakar.

Melihat beberapa pertimbangan aspek teknis di atas, tentunya implementasi methanol di dalam bahan bakar tidaklah mudah dilakukan. Pengujian karakteristik, engine test, dan uji jalan perlu dilakukan untuk mencari solusi dari isu-isu teknis tersebut. Hal ini yang saat ini sedang dilakukan fungsi Research & Technology Center. Bekerjasama dengan lembaga penelitian, beberapa formulasi campuran gasoline–methanol–ethanol sedang dalam tahap pengujian untuk mencari komposisi yang paling optimal. Dukungan dari Pemerintah berupa revisi untuk memperbolehkan kandungan methanol dalam spesifikasi bahan bakar gasoline juga perlu dilakukan. Termasuk untuk penerbitan spesifikasi baru untuk bahan bakar campuran GME.

sumber :
RTC Innovation Update 2019, Merdiani Aghnia Mokobombang, “Gasoline – Methanol – Ethanol Blending Fuel at A Glance” (page 82-85)

Program Inisiatif A20 Pertamina

Sebagai upaya untuk mengurangi import gasoline,pemerintah telah mengeluarkan peraturan untuk kewajiban pemanfaatan baan bakar nabati sebagai campuran bahan bakar kendaraan. Di dalam Peraturan Menteri ESDM 12/205, ethanol diwajibkan sebagai campuran bahan bakar gasoline sejak tahun 2015. Target implementasi terus meningkat hingga 20% di tahun 2025. Namun, pada kenyataannya hingga saat ini kewajiban tersebut belum bisa terpenuhi karena keterbatasan supply ethanol domestik dan tidak masuknya nilai keekonomian produk Salah satu inisiatif yang saat ini sedang dikembangkan untuk mengatasi tantangan tersebut, adalah dengan melakukan pencampuran methanol dan ethanol dengan bahan bakar gasoline. Harga methanol yang jauh lebih rendah dibandingkan ethanol akan memberikan keuntungan terhadap nilai keekonomian produk.

PT Pertamina (Persero) mengatakan akan segera masuk pada pengembangan biogasoline (A20) atau gasoline metanol 15 persen dan etanol lima persen. SVP Research and Technology PT Pertamina Dadi Sugiana menuturkan, saat ini Indonesia masih jadi importir kedua terbesar untuk biogasoline setelah Meksiko dengan jumlah lebih dari 300 ribu barel.  Adapun dalam penerapan biogasoline, ada dua strategi yang akan dilakukan perusahaan, yakni menunggu produksi Pertamina atau impor terlebih dahulu.

Implementasi pencampuran methanol-ethanol di dalam bahan bakar gasoline ditargetkan untuk dilakukan dalam waktu dekat. Target implementasi awal adalah melakukan pengujian market awareness di Jakarta dan Surabaya, kemudian berkembang untuk dapat diimplementasikan di seluruh Indonesia. Diharapkan melalui skema ini dapat mengurangi 42% bahan bakar import pada tahun 2026 sekaligus dapat meningkatkan current account deficit.

Salah satu negara yang telah sukses mengimplementasikan campuran methanol di dalam bahan bakarnya adalah China. Sejak tahun 2008, China telah mengembangkan spesifikasi untuk bahan bakar methanol di beberapa provinsi. Saat ini, beberapa provinsi local di China telah menggunakan campuran methanol dalam porsi tinggi, salah satunya adalah provinsi Shangxi yang menggunakan 100% methanol untuk kendaraan bermotornya.Selain campuran masing-masing ethanol atau methanol di dalam gasoline, pencampuran keduanya di dalam bahan bakar juga telah diinisiasi oleh Eni dan FCA dengan mengembangkan bahan bakar A20 yang terdiri dari 15% methanol dan 5% ethanol. Formula bahan bakar A20 didesain untuk mesin kendaraan diatas tahun 2001. Bersama Fiat, pengujian jalan telah dilakukan untuk 100,000 km tanpa menunjukan adanya masalah pada mesin. Bahan bakar A20 tersebut memiliki nilai octane yang tinggi, dan diklaim dapat mengurangi emisi CO2 hingga 3%.

sumber :
https://www.medcom.id/ekonomi/energi/yNL7VpqK-cara-pertamina-agar-bisa-produksi-bensin-murah
RTC Innovation Update 2019, Merdiani Aghnia Mokobombang, “Gasoline – Methanol – Ethanol Blending Fuel at A Glance” (page 82-83)